Cerpen! The Rise Of Redeye

Ini cerpen jadul paling aneh yang aku publikasikan. Just read it and please critics it!

Desa itu, tepatnya di desa Misty, desa yang penuh dengan kabut tebal, terdapat sebuah hutan perawan, hutan yang tak pernah dijelajahi, hutan itu disebut-sebut sebagai Redeye’s Forest—Hutan Si Redeye.

Hutan itu disebut seperti itu karena ada sesosok makhluk barmata merah yang tinggal disana. Rupanya seperti manusia dengan jubah hitam panjang yang menutupi seluruh tubuhnya. Redeye adalah satu alas an mengapa Hutan Si Redeye tak pernah dijelajahi.

Tapi, Rdeye bukanlah penghalang bagi 2 anak kembar di Desa Misty. Mereka berdua adalah Bram dan Zam. Mereka tinggal di puing-puing pesawat yang pernah mendarat darurat di samping danau besar di desa itu.

Tubuh Bram dan Zam sama-sama besar dan tinggi, rambut mereka pendek berantakan, kulit mereka coklat, dan mereka sama-sama suka menguji Adrenalin. Walau mereka kembar identik, mereka masih memiliki perbedaan yang sedikit mencolok. Yaitu, Bram mengenakan kaca mata, sedangkan Zam tidak.

Orang tua mereka, Lisa dan Quildo, menterlantarkan mereka berdua sejak mereka berumur 5 tahun. Tanpa alasan yang begitu jelas. Setelah Bram dan Zam dibuang, Lisa mengajukan surat perceraian pada Quildo, dan akhirnya sepasang kekasih itupun tak hidup bersama lagi. Lisa pindah ke kota besar untuk bekerja dan Quildo pergi entah kemana.

Walaupun begitu, Bram dan Zam tetap tegar menjalani hidup. Setiap hari mereka menjalani hidup sebagai anak “normal”. Mandi di danau di sebelah puing pesawat mereka, makan buah-buahan hasil mencuri dari lading Paman Lol yang suka tertawa sendiri, dan minum-minuman gratis dari kios kios di alun-alun desa yang ramai setiap sorenya.

* * *

Pada saat hari Jumat siang penuh kabut di bulan November, Bram dan Zam sedang mendiskusikan ekspedisi mereka di Hutan Si Redeye.

“Apa yang harus kita bawa nanti malam saat pergi ke hutan busuk itu?” Tanya Bram seraya mengambil buku catatan kecil di bawah salah satu kursi penumpang pesawat yang spon-sponnya sudah meluber keluar, “Ya ampun. Aku tak pernah tau pesawat busuk ini menyimpan banyak sekali benda-benda berguna.”

“Bram, kurasa kita harus membawa senter 2 buah, segulung tali, sebuah pisau, dan sebuah salib!” Jawab Zam semangat seraya mengarahkan jari telunjuknya ke udara.

“Baiklah,” Sahut Bram serya menuliskan apa yang tadi di sebutkan oleh Zam di buku catatan kecilnya.

2 Senter

1 Tali

1 Pisau

1 Salib

“Ok. Malam ini kita akan pergi kesana,” Kata Bram seraya mengantongi buku catatannya, “Hal yang harus kita lakukan adalah mencari apa yang kita perlukan, Zam.”

“Baiklah! Aku akan mencari senter dan pisau,” Kata Zam pada Bram, “Kau mencari tali dan salib.”

“Tunggu dulu,” Pekik Bram, “Aku baru sadar. Kenapa kita memerlukan salib? Maksudku, apakah kita benar benar membutuhkan barang itu?”

“Tentu saja, Bram,” Kata Zam sok seraya melipat tangannya penuh percaya diri, “Kau tahu? Kita akan menghadapi monster di sana! Dan, seharusnya kau tau kalau monster pastilah musnah dan kalah dengan salib” Zam sedikit menekankan pada kata itu, “Dan sekarang kita mulai pencariannya!” Zam keluar dari pesawat diikuti oleh Bram. Mereka sekarang berpencar untuk mencari apa yang akan mereka butuhkan di Hutan Si Redeye.

Bram pergi ke Sungai Nim yang mengalir deras di bagian selatan desa. Di samping desa itu berdiri rumah kosong tak berpenghuni. Dan disana Bram mendapatkan apa yang ia cari, segulung tali, panjangnya kira kira sekitar 10 meter.

Setelah mendapatkan tali, Bram pergi mencari ranting ranting kayu yang besar dan kuat. Dengan ranting dan tali yang ia dapat ia berhasil membuat sebuah salib. Dan, misinyapun terselesaikan dengan mudah.

Sedangkan Zam, dia mendapatkan senter dari toko listrik dengan cara mengambilnya tanpa izin, alias mencuri. Lalu, Zam pergi ke sebuah rumah di tengah sawah. Rumah itu adalah rumah pandai besi, Gerget. Dengan sedikit taktik, Zam berhasil mendapatkan pisau yang ia butuhkan. Tugasnya selesai dengan amat baik sekali.

Sorenya, sekitar jam 5, si kembar berkumpul di ruang kendali pesawat dengan benda benda yang mereka dapatkan tadi. Wajah mereka berseri seri gembira serya berkata, “Aku berhasil!”

“Baiklah,” Kata Bram membuka pembicaraan, “Kita sudah berhasil mendapatkan apa yang kita butuhkan. Sekarang kita istirahat sampai jam 10 malam. Dan pada jam itu juga kita harus sudah siap berangkat ke Hutan Si Redeye.”

“Siap!” Sahut Zam seraya berhormat dan keluar dari ruang kendali menuju kursi penumpang yang nyaman untuk dijadikan tempat tidur.

Mereka berdua tidur dengan nyenyak sampai-sampai tak sadar kalau ada sekelebat makhluk hitam yang lewat di sekitar puing-puing pesawat mereka. Makhluk itu tak lain dan tak bukan adalah Redeye yang siap sigap dengan kapak merahnya yang tak pernah disinggung sebelumnya.

Tepat jam setengah 10 malam, Bram dan Zam bagun dari tidurnya. Mereka berjalan keluar danau untuk mandi dan menyegarkan diri. Mungkin, mereka mengira hari ini adalah kali terakhirnya mereka mandi.

Langit di luar begitu indah, penuh taburan bintang yang ditemani oleh bulan purnama yang bersinar terang. Bram dan Zam berjalan perlahan mendekati danau. Sedetik kemudian, ketika mata mereka memandang air danau. Wajah Bram dan Zam menjadi pucat pasi seolah ketakutan. Mereka saling memandang ketakutan.

“Ap-ap-Apa yang terjadi disini? Air danau menjadi merah,” Gagap Zam seraya mundur beberapa langkah.

Bram tak menjawab. Dia sedang waspada. Ia tahu sesuatu akan terjadi. Ia menajamkan telinganya dan menangkap sura derap kaki mendekat. Bram berbalik dan tampak Redeye yang siap menebaskan kapaknya. Bram dengan sigap langsung menarik saudaranya dan lari entah kemana.

“Dia datang! Dia sudah bersiap siap membunuh kita!” Teriak Bram seraya mempercepat larinya.

“Redeye! Aku tak pernah membayangkan dia seseram itu!” Pikik Zam seraya menyeimbangi saudaranya yang berlari cepat.

Mereka berlari terus dan mereka masuk ke sebuah hutan gelap dimana pohon-pohon tumbuh dengan rapatnya. Mereka meloncat ke semak semak dan bersembunyi disana.

“Ingat kita tak membawa apa apa! Jangan bergerak dan berbicara sedikitpun.” Perintah Bram tegas.

Zam mengangguk mengerti.

Mereka menajamkan matanya ke setiap arah. Semenit kemudian muncul Redeye yang berjalan dengan gagahnya. Redeye diam tepat di depan semak-semak tampat Bram dan Zam bersembunyi.

Kresek…

Redeye mendengar suara itu. Suaranya berasal dari semak-semak di depannya. Redeye mengangkat kapaknya dan langsung menebaskannya ke semak-semak. Cipratan darah muncrat membasahi jubah Redeye. Redeye melepas jubahnya dan tampak tubuhnya yang kekar penuh luka bakar dan wajahnya yang rata seperti hantu dengan mata merahnya yang bercahaya. Senyuman merekah di wajah Redeye. Ia melangkah ke semak-semak dan mengambil mangsanya.

Senyum Redeye langsung memudar. Ternyata yang tadi ia tebas hanyalah seekor tupai. Redeye menggeram dan memakai jubahnya lagi. Ia telah kehilangan mangsanya.

Sebelumnya, Zam dan Bram sudah kabur ketika mereka melihat Redeye mendekat. Sekarang mereka berdua sedang berlari menuju puing-puing rumah mereka.

“Aku tak pernah setakut ini sebelumnya! Hidup kita terancam sekarang!” Pekik Zam serya masuk ke dalam puing-puing kapal diikuti Bram.

“Aku rasa tak begitu,” Kata Bram, “Kita masih punya harapan! Aku tahu dia bukan monster. Tadi dia itu berjalan dan tidak terbang atau tepatnya dia tak berjalan seperti monster pada umumnya. Jadi, kita tak membutuhkan salib. Kita hanya membutuhkan pisau untuk membunuhnya. Mungkin kita harus mencari benda lain yang berguna.”

“Kurasa kau benar. Kau boleh memakai pisau itu. Aku akan memakai,” Zam berpikir sejenak dan memandang sekelilingnnya, “Aha! Aku bisa menggunakan besi runcing ini,” Zam mengambil sebuah besi berkarat besar yang ujungnya runcing dan memperlihatkannya pada Bram.

“Benda yang bagus.” Puji Bram yang langsung terkejut melihat Redeye yang sedang berjalan mendekati puing-puing pesawat dari jendela kaca pesawat yang pecah, “Kita harus pergi!”

Bram dan Zam keluar dari pintu pesawat lainnya yang tembus ke belakang pesawat. Kemudian, mereka berdua mengendap endap menuju ke depan pesawat. Tapi, Redeye sudah hilang.

Bram langsung menggenggam erat tangan Zam serya berteriak, “LARI!”

Benar saja. Redeye sedang berada di belakang mereka tadi. Sekrang merekapun harus kejar kejaran dengan Redeye.

Redeye sudah tidak sabar lagi. Ia langsung melemparkan kapanya ke arah si kebar dan langsung menancap di kepala Zam yang langsung mengucurkan darah. Bram langsung shock dan berteriak teriak kesetanan. Air mata meluncur membasahi pipinya. Bram menengok ke arah Redeye seraya berteriak, “Apa yang kau inginkan? Mengapa kau lakukan semua ini?”

Redeye diam saja dan terus berjalan mendekati mereka berdua serya melepas jubahnya dan menunjukan wajah aslinya pada Bram dan Zam. Wajah yang rata dengan mata merah menyala.

“Kalian, aku tahu kalian akan datang suatu hari ke tempatku,” Kata Redeye dengan nada menggeram, “Jika, kalian tidak aku bunuh, maka kalian akan tahu sesuatu yang selama ini tersembunyi di Hutanku.”

Redeye mengangkat kembali kapaknya dan langsung menebaskannya ke arah mereka berdua. Dengan cepat Bram dan Zam langsung berlari cepat ke arah hutan.

“Kita harus tahu rahasia itu,” Kata Bram tegas.

“Aku pikir juga begitu. Sesutu yang top-secret pasti ada di sana,” Kata Zam semangat.

Redeye memasang kembali jubahnya dan menutupi seluruh badannya sampai yang terlihat hanya matanya saja dan langsung mengejar si kembar.

Bram dan Zam memimpin di depan sana dan sudah menembus hutan sampai mereka menemukan sebuah rumah tua besar bergaya eropa berdiri dengan seramnya di tengah tengah hutan.

“Aku berani bertaruh rahasianya ada di sini,” Kata Zam.

“Kurasa juga begitu, Zam,” Kata Bram.

Mereka masuk ke dalam rumah itu dan memasuki sebuah aula besar berantakan yang kotor penuh debu.

“Kau periksa kamar kamar yang ada di atas!” Perintah Bram pada Zam, “Aku akan mencari di bawah!”

Mereka berdua mulai berpencar mencari sesuatu yang kiranya adalah top-secret.

Bram memasuki dapur yang lengkap dengan kulkas, kompor, tempat cuci tangan&piring, meja makan, dan sebuah mini bar.

“Apa yang di butuhkan hantu dengan semua alat ini?” Pikir Bram dalam hati seraya pergi ke ruang tamu di sebelah dapur.

Ada televisi, radio, laptop, dan secarik foto kusam di atasnya. Bram menarik foto itu dan dia langsung tersentak kaget melihatnya. Itu adalah foto dirinya, saudarnya, mamanya, dan papanya.

Bram dan Zam berpose di antara Lisa dan Quildo. Namun, ada sesuatu yang ganjil di foto itu. Wajah Lisa dicoreti tinta merah dan ada bekas bakaran rokok tempat di wajahnya juga.

“Jika aku tidak salah, si Redeye pastilah—”

ARRGGG!!!! BRAM PERGI!!!

Terdengar lengkingan teriakan Zam dari atas. Sesuatu yang buruk terjadi di sana pasti.

Bram dengan cepat menyelipkan foto yang ia temukan di celananya dan langsung barlari menuju lantai dua. Sesampainya di lantai dua dia langsung menajamkan telinganya.

Ia mendengar seretan dan isakan dari suatu kamar di—Di ujung sana.

Bram dengan cepat berlari ke sana dan Zam menyadarinya dan langsung berteriak, “BODOH! JANGAN KESINI! REDEYE ADA DISINI! INI JEBAKAN!”

Bram langsung berhenti dan dia langsung memandang sekeliling. Di belakangnya berdiri Redeye dengan kapaknya. Bram langsung berbalik dan pundaknya terasa sakit sekali beberapa saat setelah ia mulai melangkahkan kaki.

Ia melihat pundaknya, luka dan mengeluarkan darah. Ia menutup pundaknya mencegah agar darah tak keluar banyak. Bram masuk ke dalam kamar di ujung sana dan langsung menutup pintu dan menguncinya. Sekarang Bram dan Zam berada di kamar yang sama.

Bram melepaskan tali yang mengikat Zam. Dan Zam langsung mengoceh, “Apa yang kau lakukan? Kau lebih baik tinggalkan aku! Biarkan aku saja yang mati!”

“Jangan bicara seperti itu! Kita harus mati bersama sama dan menyusul Ibu!” Kata Bram setenang mungkin.

“Apa maksudmu menyusul ibu?” Kata Zam masih dengan nada marahnya.

“Ibu pastinya sudah meninggal dan kau harus tahu sesuatu, bahwa Redeye adalah ayah kita!” Kata Bram seraya menyerahkan foto yang ia temukan, “Wajah ibu di bakar tanda dia pasti mati dengan cara seperti itu. Kita tidak ada tanda apa apa di foto, sama seperti ayah. Dan di antara kita dan ayah, yang bisa melakukan semuai ini hanyalah dia. Aku berpikir Redeye bukanlah hantu melainkan manusia yang cacat pada wajah dan matanya. Itu tebukti dari apa yang ada di ruang tamu dan dapur. Buat apa hantu membutuhkan kulkas, kompor—”

GUBRAKKK!!!

Pintu terbuka dan Redeye muncul dengan seramnya. Jubah masih menutupi tubuhnya. Redeye sudah tau kalau rahasia ini pasti akan terbongkar.

“Apa yang kau katakan semuanya benar, Bramy Gertyn!” Kata Redeye serata melepaskan jubahnya dan menampilkan wajahnya, “Hmm… Anak pintar!”

“Apa yang kau lakukan pada ibu? Apa yang membuatmu—” Bram sedikit memberontak dan langsung di sela Redeye.

“Ibumu atau istriku… Dia adalah seorang penghianat. Dia sebenarnya tidak pergi ke kota untuk bekerja. Tapi, untuk menikah. Dan kalian, kalian di buang gara gara aku tak pernah merasa kalian anakku! Aku tak pernah menghamili istriku! Dia hamil di luar nikah! Dia dihamili oleh Scott Devlon, pacarnya saat kuliah dulu,” Redeye menunjuk wajahnya, “Dan ini semua juga di lakukan olehnya sesudah dia bercerai denganku. Dia menyiramkan racun hingga wajahku dan mataku seperti ini. Setelah tahu keadaanku seperti ini, aku mengurung diri di Hutan yang tak pernah di jelajahi setelah aku ada di sini. Orang orang mengiraku hantu, sama seperti kalian. Aku menemukan rumah ini dulunya masih di huni satu keluarga. 3 pasangan orang tua. Aku sudah tak punya perasaan dan hati setelah itu dan, langsung membunuh mereka tanpa ampun. Mayat mereka aku seret sampai pinggir hutan agar tak ada lagi yang mendekat dan aku bunuh.”

Bram dan Zam mendengar dengan seksama dan waspada.

“Aku juga tak akan pernah segan membunuh kalian!” Redeye menebaskan kapaknya ke arah Zam dan menancap di kepalanya. Darah langsung mengucur.

“ZAM!!! TIDAK!!! INI TIDAK MUNGKIN!” Teriak Bram seraya terisak melihat saudaranya sudah kaku, mengeluarkan banyak darah, dan tiada, “KAU MAHKLUK PALING BURUK!!! JAHAT!!!”

“Aku juga merasa begitu!” Kata Redeye seraya memamerkan senyumnya yang menyeramkan, “Rasakan ini!”

Redeye menghajar wajah Bram sampai darah mengcur dari hidungnya. Redeye langsung emncabut kapak dari kepala Zam dan menebaskannya ke jantung Bram, “Kalian semua akan menyusul ibu kalian yang lacur itu!”

Bram dan Zam sudah tiada di tangan Redeye. Mereka sudah kembali ke sisiNya. Sedangkan Redeye telah menang.

Redeye keluar dari kamar tempat mayat Bram dan Zam tertidur untuk selamanya. Redeye ke lantai satu tepatnya ke dapur. Dia mengambil sebuah kaleng cartridge kompor gas dari almari di pojok dapur. Dia lalu menghidupkan kompornya dan nyala api api yang menari nari, “Aku juga akan mati! Aku tak pernah tahan hidup dengan keadaan begini!”

Dia melemparkan kaleng cartridge kompor gas ke api api yang membawa.

DUAR!!!

Ledekan besar terjadi, rumah itu terbakar, jazad Bram dan Zam dan Redeye terbakar hingga ke tulang tulangnya di rumah itu. Api api merambat terus sampai membakar habis Hutan Si Redeye.

Api terus membara dan membakar apa saja sampai membuat desa Misty di dunia ini hilang untuk selamanya…

***

Apa yang terjadi di danau adalah hal yang jarang terjadi di Desa Misty. Kata penduduk desa zaman dahulu, danau yang airnya bersih mendadak menjadi merah adalah pertanda buruk. Dan itu memanglah terjadi, contohnya di desa ini, Desa Misty.

3 Balasan ke Cerpen! The Rise Of Redeye

  1. Snowdrop.Wannabe mengatakan:

    Hutan itu disebut seperti itu

    nah….. ganjil nggak?

    bukannya lebih bagus: Redeye’s Forest disebut seperti itu

  2. Drude A.G.D mengatakan:

    Ooo… Yayayaya…
    But, Itulah gaya berceritaku… kadang2 ngawur….

  3. Snowdrop.Wannabe mengatakan:

    haahahaha…..
    saia pund suka ngawur n kadang muter” doank

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: